Jumat, 13 April 2012

[FANFIC] YongSeo - I Miss You Already...


AAAAA! Aku ini emang delusional :O Sebagai Goguma Shipper aku nggak rela WGM mereka selesai dan karena aku nggak nemu fanfic yang memuaskan, aku bikin sendiri deh hohohok Let's staaaaart...

***


Malam terasa sangat dingin saat itu...
Di bawah temaram lampu, dua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih berdiri di sana. Entah apa yang terjadi pada mereka, tapi di mata mereka tersirat kesedihan yang amat sangat.

"Ah, kita terlihat seperti pasangan yang kabur dari rumah," ujar gadis itu. Dia membawa begitu banyak barang. Gitar, 2 boneka, bunga, surat, dan tas di punggungnya. Wajahnya menampakkan senyum, tapi kegetiran dibalik senyum itu tidak bisa disembunyikan.

Gadis itu mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang mengantarnya pulang. Ia mengucapkan terimakasih berkali-kali yang hanya dibalas dengan senyuman oleh laki-laki yang mengantarnya. Akhirnya gadis itu melangkah masuk, melewati pintu kaca otomatis, ke dalam gedung yang merupakan tempat tinggalnya itu. Lelaki itu hanya memandanginya dengan senyum yang tak kalah getir. Hampir tak terlihat, matanya berkaca-kaca.

"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak bisa pergi," Gadis itu membalikkan badannya, memandang lelaki itu melalui pintu kaca yang tertutup.

Lelaki itu masih tersenyum, namun semakin lama lebih seperti sebuah rem yang mengganjal air matanya.

"Nggak papa. Masuklah."

Masih terpaku di tempat mereka masing-masing, mereka bertukar pandang selama beberapa saat, berusah meyakinkan bahwa mereka berdua sama-sama tidak apa-apa. Tapi tiba-tiba... gadis itu melangkah keluar, membuat pintu otomatis itu terbuka sekali lagi. Raut wajah lelaki itu berubah, antara terkejut dan ketidak percayaan.

Ia berkelakar, "Ah, apa lagi?". Kata-katanya jelas berbeda 180 derajat dengan reaksi yang ia tunjukkan. Matanya berbinar dan senyum merekah tipis di wajahnya. Tanpa dinyana, gadis itu memeluknya dengan hangat. Hangat, sehangat matahari musim semi yang mungkin akan melelehkan salju di sekitar mereka saat itu. Beberapa detik kemudian, kehangatan itu sirna. Gadis itu tersenyum, menganggukan kepalanya, lalu kembali melangkahkan kakinya memasuki gedung apartemen itu.

Mereka saling bertukar salam perpisahan dan meyakinkan bahwa mereka berdua masih berdiri di sana hingga akhirnya si lelaki melangkah pergi lebih dulu, lalu menghilang di balik pagar bata yang mengelilingi rumah itu. Gadis itu juga menaiki tangga, menghilang di balik tembok. 10 detik kemudian, ia kembali terlihat di balik pintu kaca. 

Ah, dia sudah benar-benar pergi... Sebutir air mata bergulir di pipi kirinya. Ia masih berdiri terpaku memandangi kru reality show yang dibintanginya itu sedang membereskan peralatan shooting. Sedingin malam itu, hatinya membeku memikirkan bahwa ia sudah tidak bisa lagi pergi ke rumah ke 'tiga' nya.

Keesokan harinya...

Udara terasa jauh lebih hangat dibandingkan dengan udara tadi malam yang dingin menusuk. Semburat sinar matahari yang tersembunyi di balik awan turut menghangatkan pagi itu. Episode sedih dari sebuah drama terjadi di depan gedung itu semalam, namun yang terlihat pagi ini hanyalah seorang lelaki berumur kira-kira setengah abad sedang membersihkan salju yang menumpuk. Di lantai tiga gedung itu juga tidak terlihat ada kegiatan yang berarti, hanya seorang gadis yang sedang menonton televisi, mungkin lebih tepatnya memandangi karena ia tidak menyadari bahwa saluran TV itu sedang mengalami gangguan. Gadis itu adalah gadis yang tadi malam.

"Seohyun-ah, kamu lagi nonton TV? Tumben." Seseorang berparas cantik dan bertubuh mungil menegurnya. Ia merapikan, yang sebenarnya lebih kelihatan seperti menggaruk, rambutnya yang lurus sebahu.

"Ah, Taeyeon-unnie. Iya, acaranya bagus sekali. Unnie baru saja bangun?," Seohyun memalingkan wajahnya dari televisi dan memandang leader group nya itu.

Taeyeon melongo dan memandanginya dengan wajah seperti ia baru saja melihat seekor harimau mengeluarkan telur. "Wow, seleramu emang aneh ya. Aku nggak tau apa bagusnya siaran itu." Ia berlalu sambil terus menggaruk kepalanya dan menguap. Di saat yang sama, Hyoyeon, anggota lain dari SNSD dan juga teman sekamar Seohyun, berjalan ke arah Seohyun yang berwajah pongah karena menyadari bahwa sedari tadi ia hanya melihat layar buram tanpa gambar.

Hyoyeon duduk di sebelahnya dan Seohyun buru-buru mengganti channelnya, sebuah acara talk-show di pagi hari. Mereka saling terdiam dan terlihat berusaha memfokuskan pikiran mereka kepada acara tersebut biarpun jelas terlihat bahwa pikiran mereka berdua sama sekali tidak ada yang tertuju pada acara pagi itu. Hyoyeon yang merasa sangat gusar karena merasa ada yang aneh pada Seohyun akhirnya angkat bicara

"Kamu kenapa? Nggak enak badan?" Ia membelai rambut member termuda itu. Seohyun hanya tersenyum dan mengatakan tidak. 

Mereka berdua kembali terdiam. Bingung apa yang harus dilakukan, Hyoyeon meraih remote control dan hampir saja memencet tombol ganti channel ketika sebuah nama band yang akhir-akhir ini sangat familiar dengan mereka disebut. CN Blue, tampil menjadi band pengisi di acara talk-show pagi itu.

"Yong-seobang..." lirih Hyeoyeon berkata. Sepertinya ia tidak sadar terhadap apa yang dikatakannya karena ia tiba-tiba mengatupkan mulutnya, memandang Seohyun dengan penuh kekhawatiran. Ia menggenggam remote televisi itu erat-erat.

Ketika nama CN Blue disebut, posisi duduk Seohyun berubah menjadi tegak, badannya kaku, dan gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Matanya yang bersinar, yang disukai oleh lelaki itu, kini tidak terlihat kilaunya. Drummer, Kang Minhyuk, mengetukkan stick drum nya 4 kali dan Love Revolution pun terdengar. Kamera berpindah jauh ke atas, memperlihatkan semua anggota band itu, lalu ke bassis, gitaris, hingga akhirnya vokalis band tersebut. Saat kamera meng-close up wajah vokalis band itu, lelaki yang bersamanya malam itu, lelaki yang dipanggil Yong-seobang oleh Hyoyeon itu, bahu Seohyun terkulai lemas walaupun ia masih duduk tegak dan matanya masih terpaku pada layar kaca itu. Begitulah tiga setengah menit berlalu dan kesunyian kembali menyeruak.

"Kamu kangen sama dia kan?" Hyoyeon kembali menjadi pemecah keheningan.

Seohyun tersadar dari pikirannya dan menoleh ke arah Hyoyeon. "Unnie, itu tidak mungkin. Aku hanya terkejut karena Yonghwa-oppa tiba-tiba muncul di TV." Ia kembali memalingkan wajahnya ke arah televisi yang kini menampilkan iklan produk susu kesehatan.

Hyoyeon tersenyum melihat tingkah lugu Seohyun yang langsung menyangkal pernyataan itu, bukti bahwa ia memang merindukan Yonghwa. 

"Nonton channel TV yang burem, duduk sekaku papan waktu ada Yonghwa, dan nonton dengan hampir nggak kedip sama sekali. Kamu nggak bisa mbohongin aku, Seohyun-ah," Hyoyeon terus menggodanya.

Seohyun kehabisan kata-kata. "Tidak Unnie, itu tidak benar." Dalam kegugupan yang menjalari dirinya, tanpa sadar ia sudah memindah channel televisi berkali-kali dengan frekuensi 1 channel per detik.

Mata Hyoyeon tertuju pada handphone Seohyun yang terletak di meja di depan sofa yang mereka duduki saat ini. Ia meraihnya dan langsung menyodorkannya ke Seohyun.

"Telefon dia." 

Kalimat itu terdengar seperti seorang ibu yang menyuruh anaknya belajar. Seohyun memandang unnie-nya itu dengan penuh kebingungan. Tangannya masih menggenggam remote dengan sangat erat, sangat erat hingga remote itu mungkin akan mati kehabisan nafas jika ia bisa bernafas. "Kamu kangen dia kan?" Hyoyeon menegaskannya sekali lagi.

"Bagaimana bisa, Unnie? Pernikahan pura-pura kami sudah berakhir dan aku tidak punya alasan yang cukup kuat untuk menelefonnya." Raut sedih di wajah Seohyun berubah menjadi raut wajah ketakutan.

Hyoyeon menjitak kepala Seohyun pelan-pelan. "Kukira kamu udah tambah pinter sekarang, ternyata masih sama bodohnya." Ia geleng-geleng kepala dan memaksakan handphone itu untuk berada di genggaman Seohyun.... dan.... sukses, handphone itu telah berpindah tangan.

Masih dalam kebimbangan, Seohyun hanya menatap layarhandphone-nya. Ketika ibu jarinya sudah hampir menekan tombolhandphone itu, benda itu bergetar dan menyala berkerlap-kerlip. Di layarnya tertulis Yo~ooong. Seohyun terpaku, tidak percaya apakah itu halusinasi atau benar-benar nama Yonghwa tertera di sana. Ia memandang Hyoyeon yang ternyata memiliki ekspresi terkejut yang tak jauh berbeda dengannya.

"Daebak! Kalian bener-bener terpaut satu sama lain. Ayo cepet angkat!" Hyoyeon menyadarkan tubuhnya dengan wajah penuh kemenangan.

Dengan terbata Seohyun menjawab panggilan itu.

"Ah, Hyun! Apakah kamu bisa tidur tadi malam?" Seohyun terdiam, suara bising terdengar di seberang sana "Ya! Kalian berisik sekali!" teriakan Yonghwa membuat Seohyun harus sedikit menjauhkan telinganya dari speaker.

"Hyun! Kamu bisa denger aku?" Yonghwa menyahut lagi dari seberang sana.

Seohyun terkikik geli, kebisingan di seberang sana telah sedikit mencairkan kekakuan di antara mereka.

"Yong... Tidak, aku sama sekali tidak bisa tidur tadi malam dan itu menggangguku. Bagaimana dengan oppa?" Tanya Seohyun, nada ceria terdengar di suaranya. Hyoyeon tersenyum.

"Sama. Aku juga nggak bisa tidur dan aku ngerasa capek banget pagi-pagi gini harus syuting." 

Seohyun masih tersenyum. "Apa oppa baik-baik saja?" Nada khawatir terdengar di suaranya.

"Pasti terasa lebih baik kalo aku minum Ma buatanmu." Yonghwa bergurau di ujung sana.

"Kemarilah, aku akan membuatkannya untukmu." Seohyun balas bergurau.

"Tunggu aku lima menit lagi, jangan bergerak hahahaha." 

"Baiklah." Seohyun tertawa.

...

"Hyun, kapan kamu pergi ke Jepang?" 

Seohyun terdiam. "Minggu depan, oppa. Kenapa?"

"Nggak papa, berarti kamu harus bayar lebih kalo mau telfon aku."
"Siapa yang mau telfon kamu?" 

"HYUN! Kenapa kamu seperti itu? Hahahaha... Ah! Aku harus pergi. Nanti aku kirim SMS." Yonghwa menutup telfon buru-buru.

Seohyun merutuk-rutuk, kesal karena Yonghwa tidak sopan menutup telfonnya. Ketika matanya bertemu dengan mata Hyoyeon, Hyoyeon terlihat seperti elang yang sudah siap akan memangsanya. 

"Aaaaah, sepertinya bunga yang gugur bakal segera mekar lagi." Hyoyeon menggodanya lagi dan beranjak meninggalkan ruang TV. 

Saat itu, Taeyeon keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah dan bulir air menetes-netes dari ujung rambutnya. 

"Kamu sakit? Mukamu merah tuh," ujar Taeyeon sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Seohyun memegang wajahnya yang terasa panas. Masih tersenyum karena telefon tiba-tiba dari mantan 'suami' nya itu.

ddddrrrrt dddrrrrt ddddrrrrrt

Ia membuka pesan yang masuk...

"Hyun, hwaiting!" 

Foto Yonghwa dengan tangan terkepal terlihat di akhir pesan itu.

Seohyun beranjak dari duduknya. "Unnie, sini aku bantu keringkan rambutmu."

Taeyeon memandangnya dengan tatapan horor dan kaget...

***

Sementara itu, di ruang tunggu suatu studio, si penelfon juga berubah menjadi udang rebus saat itu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hanya mendengar suara Seohyun saja sudah membuatnya merasa memenangkan penghargaan Nobel. 

kriiiiiiiiiiiet

Ia menggeser kursi yang didudukinya, lalu beranjak pergi meninggalkan ruang ganti yang telah kosong itu dengan langkah yang mungkin baginya sudah tidak terasa lagi tanah yang dipijaknya. 

BLAM!

Pintu tertutup...
                                                                         ***

KYAAAAAAAAAAAAAH! Selesai juga fanfic pertamakuuuuuuu :3 hohoho YongSeo wkwkwkwk. Puas deh baca punya sendiri hohohok


Tidak ada komentar:

Posting Komentar